Belajar Html Lengkap Ket : ganti kode warna merah dengan id top menu milik anda. Sekedar gambaran, pada umumnya sebuah menu blog memiliki skema kode HTML sebagai berikut :

LIPANRITV1

Retas5



    Medsos4

    coba4

    coba6

    Entri Populer

    Jumat, 01 Agustus 2014

    ASAL USUL TUANKU RAO

    Tuanku Rao. Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak

     
     
     
     
     
     
    8 Votes

    Selama ini banyak dari kita orang batak hanya mengetahui kisah mengenai Sisingamangaraja X dari satu sisi saja, yaitu mitos tentang tewasnya Sisingamangaraja X setelah kepalannya dipenggal oleh Tuanku Rao dan kepala Sisingamangaraja terbang ke langit. Namun bagaimanakah kisah pertarungan antara Sisingamangaraja X dengan Tuanko Rao yang sesungguhnya? Artikel kali ini dikutip oleh Batara R. Hutagalung dari Buku Tuanko Rao karangan Mangaradja Onggang Parlindungan

    mangaradja onggang parlindungan
    Buku Tuanku Rao
    Perang Padri (Ada yang berpendapat kata ini berasal dari Pidari di Sumatera Barat, dan ada yang berpendapat kata Paderi berasal dari kata Padre, bahasa Portugis, yang artinya pendeta, dalam hal ini adalah ulama) di Sumatera Barat berawal dari pertentangan antara kaum adat dengan kaum ulama. Sebagaimana seluruh wilayah di Asia Tenggara lainnya, sebelum masuknya agama Islam, agama yang dianut masyarakat di Sumatera Barat juga agama Buddha dan Hindu. Sisa-sisa budaya Hindu yang masih ada misalnya sistem matrilineal (garis ibu), yang mirip dengan yang terdapat di India hingga sekarang. Masuknya agama Islam ke Sumatera Utara dan Timur, juga awalnya dibawa oleh pedagang-pedagang dari Gujarat dan Cina.
    Setelah kembalinya beberapa tokoh Islam dari Mazhab Hambali yang ingin menerapkan alirannya di Sumatera Barat, timbul pertentangan antara kaum adat dan kaum ulama, yang bereskalasi kepada konflik bersenjata. Karena tidak kuat melawan kaum ulama (Paderi), kaum adat meminta bantuan Belanda, yang tentu disambut dengan gembira. Maka pecahlah Perang Paderi yang berlangsung dari tahun 1816 sampai 1833.
    Selama berlangsungnya Perang Paderi, pasukan kaum Paderi bukan hanya berperang melawan kaum adat dan Belanda, melainkan juga menyerang Tanah Batak Selatan, Mandailing, tahun 1816 – 1820 dan kemudian mengIslamkan Tanah Batak selatan dengan kekerasan senjata, bahkan di beberapa tempat dengan tindakan yang sangat kejam.
    Sebelum masuknya agama Islam dan Kristen ke Tanah Batak, selain agama asli Batak yaitu Parmalim, seperti di hampir di seluruh Nusantara, agama yang berkembang di Sumatera Utara adalah agama Hindu dan Buddha. Sedangkan di Sumatera Barat pada abad 14 berkembang aliran Tantra Çaivite (Shaivite) Mahayana dari agama Buddha, dan hingga tahun 1581 Kerajaan Pagarruyung di Minangkabau masih beragama Hindu.
    Agama Islam yang masuk ke Mandailing dinamakan oleh penduduk setempat sebagai Silom Bonjol (Islam Bonjol) karena para penyerbunya datang dari Bonjol. Seperti juga di Jawa Timur dan Banten rakyat setempat yang tidak mau masuk Islam, menyingkir ke utara dan bahkan akibat agresi kaum Paderi dari Bonjol, tak sedikit yang melarikan diri sampai Malaya.
    Penyerbuan Islam ke Mandailing berawal dari dendam keturunan marga Siregar terhadap dinasti Singamangaraja dan seorang anak hasil incest (hubungan seksual dalam satu keluarga) dari keluarga Singamangaraja X.
    Ketika bermukim di daerah Muara, di Danau Toba, Marga Siregar sering melakukan tindakan yang tidak disenangi oleh marga-marga lain, sehingga konflik bersenjatapun tidak dapat dihindari. Raja Oloan Sorba Dibanua, kakek moyang dari Dinasti Singamangaraja, memimpin penyerbuan terhadap pemukiman Marga Siregar di Muara. Setelah melihat kekuatan penyerbu yang jauh lebih besar, untuk menyelamatkan anak buah dan keluarganya, peminpin marga Siregar, Raja Porhas Siregar meminta Raja Oloan Sorba Dibanua untuk melakukan perang tanding -satu lawan satu- sesuai tradisi Batak.
    Menurut tradisi perang tanding Batak, rakyat yang pemimpinnya mati dalam pertarungan satu lawan satu tersebut, harus diperlakukan dengan hormat dan tidak dirampas harta bendanya serta dikawal menuju tempat yang mereka inginkan.
    Dalam perang tanding itu, Raja Porhas Siregar kalah dan tewas di tangan Raja Oloan Sorba Dibanua. Anak buah Raja Porhas ternyata tidak diperlakukan seperti tradisi perang tanding, melainkan diburu oleh anak buah Raja Oloan sehingga mereka terpaksa melarikan diri ke tebing-tebing yang tinggi di belakang Muara, meningggalkan keluarga dan harta benda. Mereka kemudian bermukim di dataran tinggi Humbang. Pemimpin Marga Siregar yang baru, Togar Natigor Siregar mengucapkan sumpah, yang diikuti oleh seluruh Marga Siregar yang mengikat untuk semua keturunan mereka, yaitu: Kembali ke Muara untuk membunuh Raja Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya.
    Dendam ini baru terbalas setelah 26 generasi, tepatnya tahun 1819, ketika Jatengger Siregar –yang datang bersama pasukan Paderi, di bawah pimpinan Pongkinangolngolan (Tuanku Rao)- memenggal kepala Singamangaraja X, keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, dalam penyerbuan ke Bakkara, ibu kota Dinasti Singamangaraja.
    Ibu dari Pongkinangolngolan adalah Gana Sinambela, putri dari Singamangaraja IX sedangkan ayahnya adalah Pangeran Gindoporang Sinambela adik dari Singamangaraja IX. Gindoporang dan Singamangaraja IX adalah putra-putra Singamangaraja VIII. Dengan demikian, Pongkinangolngolan adalah anak hasil hubungan gelap antara Putri Gana Sinambela dengan Pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela.
    Gana Sinambela sendiri adalah kakak dari Singamangaraja X. Walaupun terlahir sebagai anak di luar nikah, Singamangaraja X sangat mengasihi dan memanjakan keponakannya. Untuk memberikan nama marga, tidak mungkin diberikan marga Sinambela, karena ibunya bermarga Sinambela. Namun nama marga sangat penting bagi orang Batak, sehingga Singamangaraja X mencari jalan keluar untuk masalah ini. Singamangaraja X mempunyai adik perempuan lain, Putri Sere Sinambela, yang menikah dengan Jongga Simorangkir, seorang hulubalang. Dalam suatu upacara adat, secara pro forma Pongkinangolngolan “dijual” kepada Jongga Simorangkir, dan Pongkinangolngolan kini bermarga Simorangkir.
    Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh 3 orang Datu (tokoh spiritual) yang dipimpin oleh Datu Amantagor Manurung. Mereka meramalkan, bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh pamannya, Singamangaraja X. Oleh karena itu, Pongkinangolngolan harus dibunuh.
    Sesuai hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman mati atas keponakan yang disayanginya. Namun dia memutuskan, bahwa Pongkinangolngolan tidak dipancung kepalanya, melainkan akan ditenggelamkan di Danau Toba. Dia diikat pada sebatang kayu dan badannya dibebani dengan batu-batu supaya tenggelam.
    Di tepi Danau Toba, Singamangaraja X pura-pura melakukan pemeriksaan terakhir, namun dengan menggunakan keris pusaka Gajah Dompak ia melonggarkan tali yang mengikat Pongkinangolngolan, sambil menyelipkan satu kantong kulit berisi mata uang perak ke balik pakaian Pongkinangolngola. Perbuatan ini tidak diketahui oleh para Datu, karena selain tertutup tubuhnya, juga tertutup tubuh Putri Gana Sinambela yang memeluk dan menangisi putra kesayangannya.
    Tubuh Pongkonangolngolan yang terikat kayu dibawa dengan rakit ke tengah Danau dan kemudian di buang ke air. Setelah berhasil melepaskan batu-batu dari tubuhnya, dengan berpegangan pada kayu Pongkinangolngolan berhasil mencapai sungai Asahan, di mana kemudian di dekat Narumonda, ia ditolong oleh seorang nelayan, Lintong Marpaung.
    Setelah bertahun-tahun berada di daerah Angkola dan Sipirok, Pongkinangolngolan memutuskan untuk pergi ke Minangkabau, karena selalu kuatir suatu hari akan dikenali sebagai orang yang telah dijatuhi hukuman mati oleh Raja Batak.
    Di Minangkabau ia mula-mula bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo sebagai perawat kuda. Pada waktu itu, tiga orang tokoh Islam Mazhab Hambali, yaitu Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik baru kembali dari Mekkah dan sedang melakukan penyebaran Mazhab Hambali di Minangkabau, yang menganut aliran Syi’ah. Haji Piobang dan Haji Sumanik pernah menjadi pewira di pasukan kavaleri Janitsar Turki. Gerakan mereka mendapat dukungan dari Tuanku Nan Renceh, yang mempersiapkan tentara untuk melaksanakan gerakan Mazhab Hambali, termasuk rencana untuk mengislamkan Mandailing.
    Tuanku Nan Renceh yang adalah seorang teman Datuk Bandaharo Ganggo, mendengar mengenai nasib dan silsilah dari Pongkinangolngolan. Ia memperhitungkan, bahwa Pongkinangolngolan yang adalah keponakan Singamangaraja X dan sebagai cucu di dalam garis laki-laki dari Singamangaraja VIII, tentu sangat baik untuk digunakan dalam rencana merebut dan mengIslamkan Tanah Batak. Oleh karena itu, ia meminta kawannya, Datuk Bandaharo agar menyerahkan Pongkinangolngolan kepadanya untuk dididik olehnya.
    Pada 9 Rabiu’ulawal 1219 H (tahun 1804 M), dengan syarat-syarat Khitanan dan Syahadat, Pongkinangolngolan diislamkan dan diberi nama Umar Katab oleh Tuanku Nan Renceh. Nama tersebut diambil dari nama seorang Panglima Tentara Islam, Umar Chattab. Namun terselip juga asal usul Umar Katab, karena bila dibaca dari belakang, maka akan terbaca: Batak!
    Penyebaran Mazhab Hambali dimulai tahun 1804 dengan pemusnahan keluarga Kerajaan Pagarruyung di Suroaso, yang menolak aliran baru tersebut. Hampir seluruh keluarga Raja Pagarruyung dipenggal kepalanya oleh pasukan yang dipimpin oleh Tuanku Lelo, yang nama asalnya adalah Idris Nasution. Hanya beberapa orang saja yang dapat menyelamatkan diri, di antaranya adalah Yang Dipertuan Arifin Muning Alamsyah yang melarikan diri ke Kuantan dan kemudian meminta bantuan Belanda. Juga putrinya, Puan Gadis dapat menyelamatkan diri, dan pada tahun 1871 menceriterakan kisahnya kepada Willem Iskandar.
    Umar Katab alias Pongkinangolngolan Sinambela kembali dari Mekkah dan Syria tahun 1815, di mana ia sempat mengikuti pendidikan kemiliteran pada pasukan kavaleri janitsar Turki. Oleh Tuanku Nan Renceh ia diangkat menjadi perwira tentara Paderi dan diberi gelar Tuanku Rao. Ternyata Tuanku Nan Renceh menjalankan politik divide et impera seperti Belanda, yaitu menggunakan orang Batak untuk menyerang Tanah Batak.
    Penyerbuan ke Tanah Batak dimulai pada 1 Ramadhan 1231 H (tahun 1816 M), dengan penyerbuan terhadap benteng Muarasipongi yang dipertahankan oleh Marga Lubis. 5.000 orang dari pasukan berkuda ditambah 6.000 infanteri meluluhlantakkan benteng Muarasipongi, dan seluruh penduduknya dibantai tanpa menyisakan seorangpun. Kekejaman ini sengaja dilakukan dan disebarluaskan untuk menebarkan teror dan rasa takut agar memudahkan penaklukkan. Setelah itu, satu persatu wilayah Mandailing ditaklukkan oleh pasukan Paderi, yang dipimpin oleh Tuanku Rao dan Tuanku Lelo, yang adalah putra-putra Batak sendiri. Selain kedua nama ini, ada sejumlah orang Batak yang telah masuk Islam, ikut pasukan Paderi menyerang Tanak Batak, yaitu Tuanku Tambusai (Harahap), Tuanku Sorik Marapin (Nasution), Tuanku Mandailing (Lubis), Tuanku Asahan (Mansur Marpaung), Tuanku Kotapinang (Alamsyah Dasopang), Tuanku Daulat (Harahap), Tuanku Patuan Soripada (Siregar), Tuanku Saman (Hutagalung), Tuanku Ali Sakti (Jatengger Siregar), Tuanku Junjungan (Tahir Daulay) dan Tuanku Marajo (Harahap).
    Penyerbuan terhadap Singamangaraja X di Benteng Bakkara, dilaksanakan tahun 1819. Orang-orang Siregar Salak dari Sipirok dipimpin oleh Jatengger Siregar ikut dalam pasukan penyerang, guna memenuhi sumpah Togar Natigor Siregar dan membalas dendam kepada keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, yaitu Singamangaraja X. Jatengger Siregar menantang Singamangaraja untuk melakukan perang tanding. Walaupun sudah berusia lanjut, namun Singamangaraja tak gentar dan menerima tantangan Jatengger Siregar yang masih muda. Duel dilakukan dengan menggunakan pedang di atas kuda.
    Duel yang tak seimbang berlangsung tak lama. Singamangaraja kalah dan kepalanya dipenggal oleh pedang Jatengger Siregar. Terpenuhi sudah dendam yang tersimpan selama 26 generasi. Kepala Singamangaraja X ditusukkan ke ujung satu tombak dan ditancapkan ke tanah. Orang-orang marga Siregar masih belum puas dan menantang putra-putra Singamangaraja X untuk perang tanding. Sebelas putra-putra Singamangaraja memenuhi tantangan ini, dan hasilnya adalah 7 – 4 untuk kemenangan putra-putra Singamangaraja. Namun setelah itu, penyerbuan terhadap Benteng Bakkara terus dilanjutkan, dan sebagaimana di tempat-tempat lain, tak tersisa seorangpun dari penduduk Bakkara, termasuk semua perempuan yang juga tewas dalam pertempuran.
    Penyerbuan pasukan Paderi terhenti tahun 1820, karena berjangkitnya penyakit kolera dan epidemi penyakit pes. Dari 150.000 orang tentara Paderi yang memasuki Tanah Batak tahun 1818, hanya tersisa sekitar 30.000 orang dua tahun kemudian. Sebagian terbesar bukan tewas di medan petempuran, melainkan mati karena berbagai penyakit.
    Untuk menyelamatkan sisa pasukannya, tahun 1820 Tuanku Rao bermaksud menarik mundur seluruh pasukannya dari Tanah Batak Utara, sehingga rencana pengIslaman seluruh Tanah Batak tak dapat diteruskan. Namun Tuanku Imam Bonjol memerintahkan agar Tuanku Rao bersama pasukannya tetap di Tanah Batak, untuk menghadang masuknya tentara Belanda. Ketika keadaan bertambah parah, akhirnya Tuanku Rao melakukan pembangkangan terhadap perintah Tuanku Imam Bonjol, dan memerintahkan sisa pasukannya keluar dari Tanah Batak Utara dan kembali ke Selatan.
    Enam dari panglima pasukan Paderi asal Batak, yaitu Tuanku Mandailing, Tuanku Asahan, Tuanku Kotapinang, Tuanku Daulat, Tuanku Ali Sakti dan Tuanku Junjungan, tahun 1820 memberontak terhadap penindasan asing dari Bonjol/Minangkabau dan menanggalkan gelar Tuanku yang dipandang sebagai gelar Minangkabau. Bahkan Jatengger Siregar hanya menyandang gelar tersebut selama tiga hari. Mereka sangat marah atas perilaku pasukan Paderi yang merampok dan menguras Tanah Batak yang telah ditaklukkan. Namun hanya karena ingin balas dendam kepada Singamangaraja, Jatengger Siregar menahan diri sampai terlaksananya sumpah Togar Natigor Siregar dan ia behasil membunuh Singamangaraja X.
    Mansur Marpaung (Tuanku Asahan) dan Alamsyah Dasopang (Tuanku Kotapinang) dengan tegas menyatakan tidak mau tunduk lagi kepada Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Nan Renceh, dan kemudian mendirikan kesultanan/kerajaan sendiri. Marpaung mendirikan Kesultanan Asahan dan mengangkat dirinya menjadi sultan, sedangkan Dasopang mendirikan Kerajaan Kotapinang, dan ia menjadi raja.
    Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air bangis pada 5 September 1821, sedangkan Tuanku Lelo (Idris Nasution) tewas dipenggal kepalanya dan kemudian tubuhnya dicincang oleh Halimah Rangkuti, salah satu tawanan yang dijadikan selirnya.

    ASAL USUL MARGA BATAK

    Silsilah Dan Asal Usul Marga-Marga Batak dari Si Raja Batak

    Wednesday, 4. March 2009, 06:17:04

    Horas…Somba marhula hula, Manat mardongan tubu, Elek marboru..
    Berikut adalah silsilah marga-marga batak yang berasal dari Si Raja Batak yang disadur dari buku “Kamus Budaya Batak Toba” karangan M.A. Marbun dan I.M.T. Hutapea, terbitan Balai Pustaka, Jakarta, 1987. Silsilah Raja Batak ini dicoba diterjemahkan dalam bentuk postingan biasa, semoga tidak membingungkan bagi pembaca yang kebetulan ingin mencari asal mula marganya SI RAJA BATAK dan keturunannya.
    SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu :
    1. GURU TATEA BULAN.
    2. RAJA ISOMBAON.GURU TATEA BULAN
    Dari istrinya yang bernama SI BORU BASO BURNING, GURU TATEA BULAN memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu :
    - Putra :
    a. SI RAJA BIAK-BIAK, pergi ke daerah Aceh.
    b. TUAN SARIBURAJA.
    c. LIMBONG MULANA.
    d. SAGALA RAJA.
    e. MALAU RAJA.
    - Putri :
    1. SI BORU PAREME, kawin dengan TUAN SARIBURAJA.
    2. SI BORU ANTING SABUNGAN, kawin dengan TUAN SORIMANGARAJA, putra RAJA ISOMBAON.
    3. SI BORU BIDING LAUT, juga kawin dengan TUAN SORIMANGARAJA.
    4. SI BORU NAN TINJO, tidak kawin (banci).
    TATEA BULAN artinya “TERTAYANG BULAN” = “TERTATANG BULAN”.
    RAJA ISOMBAON (RAJA ISUMBAON) RAJA ISOMBAON artinya RAJA YANG DISEMBAH. Isombaon kata dasarnya somba (sembah).
    Semua keturunan SI RAJA BATAK dapat dibagi atas 2 golongan besar :
    a. Golongan TATEA BULAN = Golongan Bulan = Golongan (Pemberi) Perempuan. Disebut juga GOLONGAN HULA-HULA = MARGA LONTUNG.
    b. Golongan ISOMBAON = Golongan Matahari = Golongan Laki-laki. Disebut juga GOLONGAN BORU = MARGA SUMBA.
    Kedua golongan tersebut dilambangkan dalam bendera Batak (bendera SI SINGAMANGARAJA), dengan gambar matahari dan bulan. Jadi, gambar matahari dan bulan dalam bendera tersebut melambangkan seluruh keturunan SI RAJA BATAK.
    SARIBURAJA dan Marga-marga Keturunannya SARIBURAJA adalah nama putra kedua dari GURU TATEA BULAN. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama SI BORU PAREME dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis).
    Mula-mula SARIBURAJA kawin dengan NAI MARGIRING LAUT, yang melahirkan putra bernama RAJA IBORBORON (BORBOR). Tetapi kemudian SI BORU PAREME menggoda abangnya SARIBURAJA, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest.
    Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudaranya, yaitu LIMBONG MULANA, SAGALA RAJA, dan MALAU RAJA, maka ketiga bersaudara tersebut sepakat untuk membunuh SARIBURAJA. Akibatnya SARIBURAJA menyelamatkan diri dan pergi mengembara ke hutan Sabulan meninggalkan SI BORU PAREME yang sedang dalam keadaan hamil.
    Ketika SI BORU PAREME hendak bersalin, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara, Tetapi di hutan tersebut SARIBURAJA kebetulan bertemu kembali dengan SI BORU PAREME.
    SARIBURAJA datang bersama seekor harimau betina yang sebelumnya telah dipeliharanya menjadi “istrinya” di hutan itu. Harimau betina itulah yang kemudian merawat serta memberi makan SI BORU PAREME di dalam hutan. SI BORU PAREME kemudian melahirkan seorang putra yang diberi nama SI RAJA LONTUNG.
    Dari istrinya sang harimau, SARIBURAJA memperoleh seorang putra yang diberi nama SI RAJA BABIAT. Di kemudian hari SI RAJA BABIAT mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga BAYOANGIN, karena selalu dikejar-kejar dan diintip oleh saudara-saudaranya.
    SARIBURAJA kemudian berkelana ke daeerah Angkola dan seterusnya ke Barus. SI RAJA LONTUNG, Putra pertama dari TUAN SARIBURAJA. Mempunyai 7 orang putra dan 2 orang putri, yaitu :
    - Putra :
    a. TUAN SITUMORANG, keturunannya bermarga SITUMORANG.
    b. SINAGA RAJA, keturunannya bermarga SINAGA.
    c. PANDIANGAN, keturunannya bermarga PANDIANGAN.
    d. TOGA NAINGGOLAN, keturunannya bermarga NAINGGOLAN.
    e. SIMATUPANG, keturunannya bermarga SIMATUPANG.
    f. ARITONANG, keturunannya bermarga ARITONANG.
    g. SIREGAR, keturunannya bermarga SIREGAR.
    - Putri :
    a. SI BORU ANAKPANDAN, kawin dengan TOGA SIHOMBING.
    b. SI BORU PANGGABEAN, kawin dengan TOGA SIMAMORA.
    Karena semua putra dan putri dari SI RAJA LONTUNG berjumlah 9 orang, maka mereka sering dijuluki dengan nama LONTUNG SI SIA MARINA, PASIA BORUNA SIHOMBING SIMAMORA. SI SIA
    MARINA = SEMBILAN SATU IBU.
    Dari keturunan SITUMORANG, lahir marga-marga cabang LUMBAN PANDE, LUMBAN NAHOR, SUHUTNIHUTA, SIRINGORINGO,
    SITOHANG, RUMAPEA, PADANG, SOLIN.
    Dari keturunan SINAGA, lahir marga-marga cabang SIMANJORANG, SIMANDALAHI, BARUTU. Dari keturunan PANDIANGAN, lahir
    marga-marga cabang SAMOSIR, GULTOM, PAKPAHAN, SIDARI, SITINJAK, HARIANJA.
    Dari keturunan NAINGGOLAN, lahir marga-marga cabang RUMAHOMBAR, PARHUSIP, BATUBARA, LUMBAN TUNGKUP, LUMBAN SIANTAR, HUTABALIAN, LUMBAN RAJA, PUSUK, BUATON, NAHULAE.
    Dari keturunan SIMATUPANG lahir marga-marga cabang
    TOGATOROP (SITOGATOROP), SIANTURI, SIBURIAN.
    Dari keturunan ARITONANG, lahir marga-marga cabang OMPU SUNGGU, RAJAGUKGUK, SIMAREMARE.
    Dari keturunan SIREGAR, lahir marga-marga cabang SILO, DONGARAN, SILALI, SIAGIAN, RITONGA, SORMIN.
    SI RAJA BORBOR Putra kedua dari TUAN SARIBURAJA, dilahirkan
    oleh NAI MARGIRING LAUT. Semua keturunannya disebut marga BORBOR. Cucu RAJA BORBOR yang bernama DATU TALADIBABANA (generasi keenam) mempunyai 6 orang putra, yang menjadi asal-usul marga-marga berikut :
    1. DATU DALU (SAHANGMAIMA), Keturunan DATU DALU melahirkan marga-marga berikut :
    a. PASARIBU, BATUBARA, HABEAHAN, BONDAR, GORAT.
    b. TINENDANG, TANGKAR.
    c. MATONDANG.
    d. SARUKSUK.
    e. TARIHORAN.
    f. PARAPAT.
    g. RANGKUTI.
    2. SIPAHUTAR, keturunannya bermarga SIPAHUTAR.
    3. HARAHAP, keturunannya bermarga HARAHAP.
    4. TANJUNG, keturunannya bermarga TANJUNG.
    5. DATU PULUNGAN, keturunannya bermarga PULUNGAN.
    6. SIMARGOLANG, keturunannya bermarga SIMARGOLANG.
    Keturunan DATU PULUNGAN melahirkan marga-marga LUBIS dan HUTASUHUT. LIMBONG MULANA dan Marga-marga Keturunannya LIMBONG MULANA adalah putra ketiga dari GURU TATEA BULAN. Keturunannya bermarga LIMBONG. Dia mempunyai 2 orang putra, yaitu PALU ONGGANG dan LANGGAT LIMBONG.
    Putra dari LANGGAT LIMBONG ada 3 orang. Keturunan dari putranya yang kedua kemudian bermarga SIHOLE dan keturunan dari putranya yang ketiga kemudian bermarga HABEAHAN. Yang lainnya tetap memakai marga induk, yaitu LIMBONG.
    SAGALA RAJA Putra keempat dari GURU TATEA BULAN. Sampai sekarang keturunannya tetap memakai marga SAGALA.
    LAU RAJA dan Marga-marga Keturunannya LAU RAJA adalah putra kelima dari GURU TATEA BULAN. Keturunannya bermarga MALAU. Dia mempunyai 4 orang putra, yaitu :
    a. PASE RAJA, keturunannya bermarga PASE.
    b. AMBARITA, keturunannya bermarga AMBARITA.
    c. GURNING, keturunannya bermarga GURNING.
    d. LAMBE RAJA, keturunannya bermarga LAMBE. Salah seorang keturunan LAU RAJA diberi nama MANIK RAJA, yang kemudian menjadi asal-usul lahirnya marga MANIK.
    TUAN SORIMANGARAJA dan Marga-marga KeturunannyaTUAN SORIMANGARAJA adalah putra pertama dari RAJA ISOMBAON. Dari ketiga putra RAJA ISOMBAON, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu :
    a. SI BORU ANTING MALELA (NAI RASAON), putri dari GURU TATEA BULAN.
    b. SI BORU BIDING LAUT (NAI AMBATON), juga putri dari GURU TATEA BULAN.
    c. SI BORU SANGGUL HAOMASAN (NAI SUANON).
    SI BORU ANTING MALELA melahirkan putra yang bernama TUAN SORBA DJULU (OMPU RAJA NABOLON), gelar NAI AMBATON.
    SI BORU BIDING LAUT melahirkan putra yang bernama TUAN SORBA DIJAE (RAJA MANGARERAK), gelar NAI RASAON.
    SI BORU SANGGUL HAOMASAN melahirkan putra yang bernama TUAN SORBADIBANUA, gelar NAI SUANON.
    NAI AMBATON (TUAN SORBA DJULU / OMPU RAJA NABOLON) Nama (gelar) putra sulung TUAN SORIMANGARAJA lahir dari istri pertamanya yang bernama NAI AMBATON. Nama sebenarnya adalah OMPU RAJA NABOLON, tetapi sampai sekarang keturunannya bermarga NAI AMBATON menurut nama ibu leluhurnya.NAI AMBATON mempunyai 4 orang putra, yaitu :
    a. SIMBOLON TUA, keturunannya bermarga SIMBOLON.
    b. TAMBA TUA, keturunannya bermarga TAMBA.
    c. SARAGI TUA, keturunannya bermarga SARAGI.
    d. MUNTE TUA, keturunannya bermarga MUNTE (MUNTE, NAI MUNTE, atau DALIMUNTE). Dari keempat marga pokok tersebut, lahir marga-marga cabang sebagai berikut (menurut buku “Tarombo Marga Ni Suku Batak” karangan W. Hutagalung) :
    a. Dari SIMBOLON : TINAMBUNAN, TUMANGGOR, MAHARAJA, TURUTAN, NAHAMPUN, PINAYUNGAN. Juga marga-marga BERAMPU dan PASI.
    b. Dari TAMBA : SIALLAGAN, TOMOK, SIDABUTAR, SIJABAT, GUSAR, SIADARI, SIDABOLAK, RUMAHORBO, NAPITU.
    c. Dari SARAGI : SIMALANGO, SAING, SIMARMATA, NADEAK, SIDABUNGKE.
    d. Dari MUNTE : SITANGGANG, MANIHURUK, SIDAURUK, TURNIP, SITIO, SIGALINGGING.
    Keterangan lain mengatakan bahwa NAI AMBATON mempunyai 2 orang putra, yaitu SIMBOLON TUA dan SIGALINGGING.
    SIMBOLON TUA mempunyai 5 orang putra, yaitu SIMBOLON, TAMBA, SARAGI, MUNTE, dan NAHAMPUN. Walaupun keturunan NAI AMBATON sudah terdiri dari berpuluih-puluh marga dan sampai sekarang sudah lebih dari 20 sundut (generasi), mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu peraturan yang melarang perkawinan antar sesama marga keturunan NAI AMBATON.
    Catatan mengenai OMPU BADA, menurut buku “Tarombo Marga Ni Suku Batak” karangan W. Hutagalung, OMPU BADA tersebut adalah keturunan NAI AMBATON pada sundut kesepuluh.Menurut keterangan dari salah seorang keturunan OMPU BADA (MPU BADA) bermarga GAJAH, asal-usul dan silsilah mereka adalah sebagai berikut :
    a. MPU BADA ialah asal-usul dari marga-marga TENDANG, BUNUREA, MANIK, BERINGIN, GAJAH, dan BARASA.
    b. Keenam marga tersebut dinamai SIENEMKODIN (Enem = enam, Kodin = periuk) dan nama tanah asal keturunan MPU BADA pun dinamai SIENEMKODIN.
    c. MPU BADA bukan keturunan NAI AMBATON, juga bukan keturunan SI RAJA BATAK dari Pusuk Buhit.
    d. Lama sebelum SI RAJA BATAK bermukim di Pusuk Buhit, OMPU BADA telah ada di tanah Dairi. Keturunan MPU BADA merupakan ahli-ahli yang trampil (pawang) untuk mengambil serta mengumpulkan kapur barus yang diekspor ke luar negeri selama berabad-abad.
    e. Keturunan MPU BADA menganut sistem kekerabatan Dalihan Natolu seperti yang dianut oleh saudara-saudaranya dari Pusuk Buhit yang datang ke tanah Dairi dan Tapanuli bagian barat.
    NAI RASAON (RAJA MANGARERAK) : nama (gelar) putra kedua dari TUAN SORIMANGARAJA, lahir dari istri kedua TUAN SORIMANGARAJA yang bernama NAI RASAON. Nama sebenarnya ialah RAJA MANGARERAK, tetapi hingga sekarang semua keturunan RAJA MANGARERAK lebih sering dinamai orang NAI RASAON. RAJA MANGARERAK mempunyai 2 orang putra, yaitu RAJA MARDOPANG dan RAJA MANGATUR.
    Ada 4 marga pokok dari keturunan RAJA MANGARERAK :
    a. Dari RAJA MARDOPANG, menurut nama ketiga putranya, lahir marga-marga SITORUS, SIRAIT, dan BUTAR BUTAR.
    b. Dari RAJA MANGATUR, menurut nama putranya, TOGA MANURUNG, lahir marga MANURUNG. Marga PANE adalah marga cabang dari SITORUS.
    NAI SUANON (TUAN SORBADIBANUA) : nama (gelar) putra ketiga dari TUAN SORIMANGARAJA, lahir dari istri ketiga TUAN SORIMANGARAJA yang bernama NAI SUANON. Nama sebenarnya
    ialah TUAN SORBADIBANUA, dan di kalangan keturunannya lebih sering dinamai TUAN SORBADIBANUA. TUAN SORBADIBANUA mempunyai 2 orang istri dan memperoleh 8 orang putra. Dari istri pertama (putri SARIBURAJA) :
    a. SI BAGOT NI POHAN, keturunannya bermarga POHAN.
    b. SI PAET TUA.
    c. SI LAHI SABUNGAN, keturunannya bermarga SILALAHI.
    d. SI RAJA OLOAN.
    e. SI RAJA HUTA LIMA. Dari istri kedua (BORU SIBASOPAET, putri Mojopahit) :
    a. SI RAJA SUMBA.
    b. SI RAJA SOBU.
    c. TOGA NAIPOSPOS, keturunannya bermarga NAIPOSPOS. Keluarga TUAN SORBADIBANUA bermukim di Lobu Parserahan – Balige. Pada suatu ketika, terjadi peristiwa yang unik dalam keluarga tersebut. Atas ramalan atau anjuran seorang datu, TUAN SORBADIBANUA menyuruh kedelapan putranya bermain perang-perangan. Tanpa sengaja, mata SI RAJA HUTA LIMA terkena oleh lembing SI RAJA SOBU. Hal tersebut
    mengakibatkan emosi kedua istrinya beserta putra-putra mereka masing-masing, yang tak dapat lagi diatasi oleh TUAN SORBADIBANUA. Akibatnya, istri keduanya bersama putra-putranya yang 3 orang pindah ke Lobu Gala-gala di kaki gunung Dolok Tolong sebelah barat.
    Keturunan TUAN SORBADIBANUA berkembang dengan pesat, yang melahirkan lebih dari 100 marga hingga dewasa ini.
    Keturunan SI BAGOT NI POHAN melahirkan marga dan marga cabang berikut :
    a. TAMPUBOLON, BARIMBING, SILAEN.
    b. SIAHAAN, SIMANJUNTAK, HUTAGAOL, NASUTION.
    c. PANJAITAN, SIAGIAN, SILITONGA, SIANIPAR, PARDOSI.
    d. SIMANGUNSONG, MARPAUNG, NAPITUPULU, PARDEDE.
    Keturunan SI PAET TUA melahirkan marga dan marga cabang berikut :
    a. HUTAHAEAN, HUTAJULU, ARUAN.
    b. SIBARANI, SIBUEA, SARUMPAET.
    c. PANGARIBUAN, HUTAPEA
    Keturunan SI LAHI SABUNGAN melahirkan marga dan marga cabang berikut :
    a. SIHALOHO.
    b. SITUNGKIR, SIPANGKAR, SIPAYUNG.
    c. SIRUMASONDI, RUMASINGAP, DEPARI.
    d. SIDABUTAR.
    e. SIDABARIBA, SOLIA.
    f. SIDEBANG, BOLIALA.
    g. PINTUBATU, SIGIRO.
    h. TAMBUN (TAMBUNAN), DOLOKSARIBU, SINURAT, NAIBORHU, NADAPDAP, PAGARAJI, SUNGE, BARUARA, LUMBAN PEA, LUMBAN GAOL.
    Keturunan SI RAJA OLOAN melahirkan marga dan marga cabang berikut:
    a. NAIBAHO, UJUNG, BINTANG, MANIK, ANGKAT, HUTADIRI, SINAMO, CAPA.
    b. SIHOTANG, HASUGIAN, MATANIARI, LINGGA, MANIK.
    c. BANGKARA.
    d. SINAMBELA, DAIRI.
    e. SIHITE, SILEANG.
    f. SIMANULLANG.
    Keturunan SI RAJA HUTA LIMA melahirkan marga dan marga cabang berikut:
    a. MAHA.
    b. SAMBO.
    c. PARDOSI, SEMBIRING MELIALA.
    Keturunan SI RAJA SUMBA melahirkan marga dan marga cabang berikut:
    a. SIMAMORA, RAMBE, PURBA, MANALU, DEBATARAJA, GIRSANG, TAMBAK, SIBORO.
    b. SIHOMBING, SILABAN, LUMBAN TORUAN, NABABAN, HUTASOIT, SITINDAON, BINJORI.
    Keturunan SI RAJA SOBU melahirkan marga dan marga cabang berikut:
    a. SITOMPUL.
    b. HASIBUAN, HUTABARAT, PANGGABEAN, HUTAGALUNG, HUTATORUAN, SIMORANGKIR, HUTAPEA, LUMBAN TOBING, MISMIS.
    Keturunan TOGA NAIPOSPOS melahirkan marga dan marga cabang berikut:
    a. MARBUN, LUMBAN BATU, BANJARNAHOR, LUMBAN GAOL, MEHA, MUNGKUR, SARAAN.
    b. SIBAGARIANG, HUTAURUK, SIMANUNGKALIT, SITUMEANG.
    ***DONGAN SAPADAN (TEMAN SEIKRAR, TEMAN SEJANJI)
    Dalam masyarakat Batak, sering terjadi ikrar antara suatu marga dengan marga lainnya. Ikrar tersebut pada mulanya terjadi antara satu keluarga
    dengan keluarga lainnya atau antara sekelompok keluarga dengan sekelompok keluarga lainnya yang marganya berbeda. Mereka berikrar akan memegang teguh janji tersebut serta memesankan kepada keturunan masing-masing untuk tetap diingat, dipatuhi, dan dilaksanakan dengan setia. Walaupun berlainan marga, tetapi dalam setiap marga pada umumnya ditetapkan ikatan, agar kedua belah pihak yang berikrar itu saling menganggap sebagai dongan sabutuha (teman semarga). Konsekuensinya adalah bahwa setiap pihak yang berikrar wajib menganggap putra dan putri dari teman ikrarnya sebagai putra dan putrinya sendiri. Kadang-kadang ikatan kekeluargaan karena ikrar atau padan lebih erat daripada ikatan kekeluargaan karena marga. Karena ada perumpamaan Batak mengatakan sebagai berikut: “Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang; Togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan”, artinya: “Teguh akar bambu, lebih teguh akar rumput; Teguh ikatan hukum, lebih teguh ikatan janji”. Masing-masing ikrar tersebut mempunyai riwayat tersendiri. Marga-marga yang mengikat ikrar antara lain adalah:
    a. MARBUN dengan SIHOTANG.
    b. PANJAITAN dengan MANULLANG.
    c. TAMPUBOLON dengan SITOMPUL.
    d. SITORUS dengan HUTAJULU – HUTAHAEAN – ARUAN.
    e. NAHAMPUN dengan SITUMORANG.
    CATATAN TAMBAHAN:
    1. Selain PANE, marga-marga cabang lainnya dari SITORUS adalah BOLTOK dan DORI.
    2. Marga-marga PANJAITAN, SILITONGA, SIANIPAR, SIAGIAN, dan PARDOSI tergabung dalan suatu punguan (perkumpulan) yang bernama TUAN DIBANGARNA.
    Menurut yang saya ketahui, dahulu antar seluruh marga TUAN DIBANGARNA ini tidak boleh saling kawin. Tetapi entah kapan ada perjanjian khusus antara marga SIAGIAN dan PANJAITAN, bahwa sejak saat itu antar mereka (kedua marga itu) boleh saling kawin.
    3. Marga SIMORANGKIR adalah salah satu marga cabang dari PANGGABEAN. Marga-marga cabang lainnya adalah LUMBAN RATUS dan LUMBAN SIAGIAN.
    4. Marga PANJAITAN selain mempunyai ikatan janji (padan) dengan marga SIMANULLANG, juga dengan marga-marga SINAMBELA dan SIBUEA.
    5. Marga SIMANJUNTAK terbagi 2, yaitu HORBOJOLO dan HORBOPUDI. Hubungan antara kedua marga cabang ini tidaklah harmonis alias bermusuhan selama bertahun-tahun, bahkan sampai sekarang. (mereka yang masih bermusuhan sering dikecam oleh batak lainnya dan dianggap batak bodoh)
    6. TAMPUBOLON mempunyai putra-putra yang bernama BARIMBING, SILAEN, dan si kembar LUMBAN ATAS & SIBULELE. Nama-nama dari mereka tersebut menjadi nama-nama marga cabang dari TAMPUBOLON (sebagaimana biasanya cara pemberian nama marga cabang pada marga-marga lainnya).
    7. Pada umumnya, jika seorang mengatakan bahwa dia bermarga SIAGIAN, maka itu adalah SIAGIAN yang termasuk TUAN DIBANGARNA, jadi bukan SIAGIAN yang merupakan marga cabang dari SIREGAR ataupun LUMBAN SIAGIAN yang merupakan marga cabang dari PANGGABEAN. Selanjutnya biasanya marga SIAGIAN dari TUAN DIBANGARNA akan bertarombo kembali menanyakan asalnya dan nomor keturunan. Kebetulan saya marga SIAGIAN dari PARPAGALOTE.
    8. Marga SIREGAR, selain terdapat di suku Batak Toba, juga terdapat di suku Batak Angkola (Mandailing). Yang di Batak Toba biasa disebut “Siregar Utara”, sedangkan yang di Batak Angkola (Mandailing) biasa disebut “Siregar Selatan”.
    9. Marga-marga TENDANG, BUNUREA, MANIK, BERINGIN, GAJAH, BARASA, NAHAMPUN, TUMANGGOR, ANGKAT, BINTANG, TINAMBUNAN, TINENDANG, BARUTU, HUTADIRI, MATANIARI, PADANG, SIHOTANG, dan SOLIN juga terdapat di suku Batak Pakpak (Dairi).
    10. Di suku Batak Pakpak (Dairi) terdapat beberapa padanan marga yaitu:
    a. BUNUREA disebut juga BANUREA.
    b. TUMANGGOR disebut juga TUMANGGER.
    c. BARUTU disebut juga BERUTU.
    d. HUTADIRI disebut juga KUDADIRI.
    e. MATANIARI disebut juga MATAHARI.
    f. SIHOTANG disebut juga SIKETANG.
    11. Marga SEMBIRING MELIALA juga terdapat di suku Batak Karo. SEMBIRING adalah marga induknya, sedangkan MELIALA adalah salah satu marga cabangnya.
    12. Marga DEPARI juga terdapat di suku Batak Karo. Marga tersebut juga merupakan salah satu marga cabang dari SEMBIRING.
    13. Jangan keliru (bedakan):
    a. SITOHANG dengan SIHOTANG.
    b. SIADARI dengan SIDARI.
    c. BUTAR BUTAR dengan SIDABUTAR.
    d. SARAGI (Batak Toba) tanpa huruf abjad “H” dengan SARAGIH (Batak Simalungun) ada huruf abjad “H”.
    14. Entah kebetulan atau barangkali memang ada kaitannya, marga LIMBONG juga terdapat di suku Toraja di pulau Sulawesi.
    15. Marga PURBA juga terdapat di suku Batak Simalungun.
    Mauliate godang, Horas………

    KERAJAAN SIMALUNGUN

    SEJARAH SINGKAT KERAJAAN-KERAJAAN SIMALUNGUN

     
    KERAJAAN NAGUR (500-1400)
    Inilah kerajaan pertama suku Simalungun, rajanya bermarga Damanik Nagur (Rampogos). Wilayahnya sangat luas, lebih luas dari Kabupaten Simalungun sekarang ini. Masa kejayaan Kerajaan Nagur berakhir sesudah penyerbuan oleh Aceh pada tahun 1539 ke beberapa tempat di daerah kekuasaanya, khususnya di daerah pantai Timur. Nagur semakin mundur setelah diserang oleh pasukan Tuan Raya bermarga Saragih Garingging pada abad XIX. Sisanya adalah kampung Nagur Raja di Kabupaten Serdang Bedagai.
    Nagur pada masa kejayaanya terdiri dari dua wilayah; di selatan oleh Nagur dan di utara oleh Kerajaan Batangiou yang selanjutnya berub ah menjadi Kerajaan Tanah Jawa. Menurut kisah, raja Nagur pada masa jayanya menjemput permaisuri (puang bolon) dari Kerajaan Mataram di Jawa. Dari sini bermula orang Simalungun memakai gotong batik seperti yang kita pakai sampai sekarang ini.

    KERAJAAN SILOU (1300-1400)
    Sesudah Nagur semakin lemah, maka salah seorang Anakborunya bermarga Purba Tambak diangkat menjadi Raja Goraha dan selanjutnya berkembang menjadi kerajaan bernama Kerajaan Silou. Nagur pada waktu itu masih tetap berdiri, tapi Kerajaan Silou semakin meluaskan wilayahnya hingga mancapai pantai Timur Sumatera sampai ke Asahan sekarang ini. Pusat pemerintahannya pada waktu itu berada di Silou Buntu di Kecamatan Raya sekarang ini, salah seorang rajanya yang terkenal bernama Tuan Toriti Purba Tambak dengan tungganganya Gajah Putih yang menjadi lambang kerajaannya.
    Senasib dengan Nagur, pada abad XIV perang saudara pecah di Kerajaan Silou di antara sesama anak raja Silou, sehingga berdiri Kerajaan Panei dan Dologsilou dari masing-masing bermarga Purba Sidasuha dan Purba Tambak Lombang.

    KERAJAAN RAJA MAROMPAT (1400-1946)
    Pada abad XIV-XVI, situasi di Sumatera Timur berada dalam keadaan genting, karena Aceh dengan pasukan Sultan Iskandar Muda terus-menerus mengancam keberadaan kerajaan-kerajaan di sepanjang jalur perdagangannya di Selat Malaka. Kerajaan Nagur yang berkuasa di situ, semakin lama semakin lemah, dan akhirnya makin terdesak hingga ke pedalaman.
    Untuk menghindarkan daerahnya dari pendudukan langsung; maka raja Nagur mengangkat orang-orang kepercayaannya menjadi panglima perang sekaligus dinikahkan dengan puteri-puterinya, sehingga para panglima ini berstatus Anakboru pada Raja Nagur yang otomatis akan menunjukkan rasa hormat dan penghargaannya kepada raja Nagur sebagai tondong.
    Pada masa setelah abad XIV, muncullah empat raja utama di Simalungun; di mana Nagur masih tetap ada, tetapi peranannya sudah semakin menghilang. Keempat raja itu adalah: Tanoh Jawa dengan raja marga Sinaga, Panei dengan raja marga Purba Sidasuha, Dolog Silou raja marga Purba Tambak dan Siantar, kerajaan marga Damanik peninggalan dari Nagur terdahulu. Masing-masing diikat oleh adat Maranakboru, Martondong, Marsanina oleh karena hubungan kekerabatan lewat jalur perkawinan yang dipolakan oleh tradisi Puang Bolon, yaitu puteri raja yang menurut adat, syarat mutlak untuk meneruskan generasi raja turun temurun. Raja Panei dan Dologsilou menjemput puang bolon kepada marga Damanik puteri raja Siantar, demikian pula Tanah Djawa. Sedangkan raja Siantar sendiri menjemput isteri pada bangsawan Silampuyang dengan gelar Tuan Silampuyang marga Saragih.

    RAJA MARPITU (1907-1946)
    Tahun 1865 mulailah kolonialisme Belanda memasuki tanah Simalungun, mula-mula di Tanjung Kasau yang pada waktu itu tunduk ke Siantar, lalu makin merembes jauh sampai ke pedalaman Simalungun dalam rangka pembukaan perkebunan di atas lahan raja-raja Simalungun. Dengan berbagai intrik dan politik pecah belah di antara sesama raja-raja dan masyarakat Simalungun; Belanda berhasil memisahkan beberapa daerah adat Simalungun dari kekuasaan Raja Marompat; daerah Padang Bedagai yang pada awalnya daerah takluk Kerajaan Silou menjadi diakui sah sebagai raja oleh Belanda. Demikian pula daerah Batak Timur Dusun di Serdang diakui masuk kesultanan Serdang. Batubara sekitarnya sampai ke Tanjung Balai yang dulu berada di bawah kekuasaan raja Siantar dan Tanah Jawa dipisahkannya dari Simalungun dan dimasukkannya ke Kesultanan Asahan.
    Pada tahun 1907 sesudah perlawanan raja-raja Simalungun berhasil ditundukkan Belanda, seperti raja Siantar Sangnaualuh Damanik, penguasa di Raya Rondahaim Saragih, Tuan Dolog Panribuan gelar Tuan Sibirong Sinaga dan raja Dologsilou Tn Tanjarmahei Purba Tambak maupun Tn Jontama Purba Sidasuha raja Panei; maka Belanda mengakui Raya, Purba dan Silimakuta menjadi kerajaan penuh di samping kerajaan Raja Marompat yang sudah lebih dahulu hadir ratusan tahun sebelumnya. Dengan demikian hadirlah tujuh kerajaan di Simalungun sesudah kehancuran Kerajaan Nagur, yaitu:

    1. Kerajaan PANEI RAJA MARGA PURBA SIDASUHA dengan puang bolon puteri boru Damanik dari Kerajaan Siantar;
    2. Kerajaan TANOH JAWA RAJA MARGA SINAGA DADIHOYONG HATARAN dengan puang bolon dari tuan puteri boru Damanik dari Kerajaan Siantar;
    3. Kerajaan SIANTAR RAJA MARGA DAMANIK BARIBA SI PAR APA dengan puangbolon dari tuan puteri boru Saragih Silampuyang dari Tuan Silampuyang/Sipoldas;
    4. Kerajaan DOLOGSILOU RAJA MARGA PURBA TAMBAK dengan puangbolon tuan puteri boru Saragih Garinging dari Kerajaan Raya;
    5. Kerajaan PURBA RAJA MARGA PURBA PAKPAK dengan puangbolon tuan puteri boru Damanik dari Kerajaan Siantar;
    6. Kerajaan RAYA RAJA MARGA SARAGIH GARINGGING dengan puangbolon tuan puteri boru Purba Sidasuha dari Kerajaan Panei;
    7. Kerajaan SILIMAKUTA RAJA MARGA PURBA GIRSANG dengan puangbolon tuan puteri boru Saragih Munthe/Saragih Garingging dari Tonging/Kerajaan Raya.

    AKHIR KERAJAAN
    Kerajaan-kerajaan Simalungun berakhir setelah kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945 secara politis tidak memiliki kekuasaan lagi seperti zaman Belanda yang diakui sebagai daerah istimewa berpemerintahan sendiri (zelfbestuurende Landschappen). Kerajaan-kerajaan Simalungun benar-benar hapus sesudah dihapuskan oleh Revolusi Sosial tanggal 3 Maret 1946 yang disertai dengan pembantaiaan tidak berperikemanusiaan oleh laskar rakyat Barisan Harimau Liar pimpinan Saragihras dan Djatongam Saragih dan kawan-kawan yang anti kerajaan. Raja-raja Simalungun diturunkan dari tahtanya dengan kekerasan, harta bendanya dirampas, bahkan nyawanya melayang bersama dengan keluarga dan rakyat yang mengasihi mereka. Mari kita kenang para raja Simalungun yang mati dibunuh dengan kejam oleh Barisan Harimau Liar itu; di antaranya Raja Panei Tuan Bosar Sumalam Purba Sidasuha; Raja Purba Tuan Mogang Purba Pakpak, Tuan Dolog Panribuan Tuan Hormajawa Sinaga, Tuan Sipolha Tuan Sahkuda Humala Raja Damanik, dan korban-korban lain yang belum diketahui.

    Pematangsiantar, 15 September 2012
    Pdt. Juandaha Raya P. Dasuha
    • Stev Bron's Poerba Purba pak pak puang bolon lang han siantar tapi han sidamanik do, unang salah hita da.
    • Dori Alam Girsang tunjukan satu sama ku gotong batik yg sudah berusia 200 tahun saja......
    • Parlindungan Damanik manstaps...monitor dan menyimak. GBU
    • Hendry Damanik Sampai kerajaan mar 7 kerajaan Nagur sebenarnya masih ada, tetapi sudah lemah krna menghadapi serangan terus menerus, terahir diserang Rondahaim dan hilang, keturunan raja Nagur juga banyak yg di buang ke bengkalis, ada yg di buang ke laut, sehingga ada makam yg hanya berisi air laut di sana, mereka juga sangat gigih menolak tanahnya jdi perkebunan, tpi krna kekuatan mereka sudah habis dengan terpaksa memberikan tanahnya ( ket. Asdan Damanik di Nagu raja)
    • Juandaha Raya Purba Stev Bron Purba, anggo ihatahon puang bolon han Siantar, na ginoran Siantar aima Siantar, Sidamanik, Bandar. On do margoran Siantar humbani marga Damanik bariba! Sarupa do ai pakon Panei, hanami mangalop puangbolon han Siantar, hansi pe hotopan han Marihat do (Tuan Marihat) tapi susurni han Rumah Bolon Siantar do tong ai, ai Tuan Anggi ni Siantar do Tuan Marihat!

      DG: Gotong ni hanami susurni ni Guru Raya dong pe, anjaha ai do ipakei hanami manipat humbani sapari anggo martongah jabu hanami (au sandiri). Anggo ididah nasiam na i wall hu, aima gotong nalobei ampa ugas-ugasni nalobei nami nadob lobih umurni ai 200 tahun, tapi tahan pe das nuan on (anjaha jimpo do ai isimpan hanami) i huta rap pakon ugas-ugas na legan sanggah bani hasipalageon pe ompung nalobeinami! Pustaha, buluh surat, baju polang-polangni ampa ugas haguruonni dong pe! Anggo hutaksir ai lobih umurni 200 tahun! Ai hanami sandiri dob 9 generasi dob pindah ompungnami hun Bajalinggei sapari!

    Rabu, 30 Juli 2014

    SEJARAH PERJUANGAN KOLONEL MALUDIN SIMBOLON

    KOLONEL MALUDIN SIMBOLON: Ingatan Kolektif Masyarakat Terhadap Jatuhnya Pesawat Tentara Pusat di Huta Tongah.

    1. Pengantar



    Pada saat duduk dibangku Sekolah Dasar, Ayah saya (penulis artikel ini) pernah menceritakan suatu peristiwa kepada saya tentang jatuhnya “Pesawat Tentara Pusat” percis diladang padi milik oppung pada saat itu.  Penuturan sang Ayah bermula pada saat kami bekerja diladang yang sering sekali menemukan peluru dengan panjang 5cm-20cm. Peluru-peluru itu dikumpulkan lalu dibakar, takut-takut kalau masih aktif.  Demikian pula dengan potongan-potongan badan pesawat berupa besi dan aluminium yang tertimbun di dalam tanah.  Menurut Ayah kami, pesawat itu jatuh setelah diawali oleh kabut hitam di udara yang berasal dari  badan pesawat, menukik tajam dan pecah terpisah menjadi 4-5 bahagian serta meledak dengan dahsyat. Pilotnya dibawa ke rumah sakit di Saribudolok dan meninggal serta dimakamkan secara Katholik.
    Masih menurut Ayah kami yang pada saat itu berumur  9 (sembilan) tahun (dan semua orang tua di kampung itu khususnya yang berumur lebih 50 tahun) mengetahui peristiwa tahun 1958 itu dengan baik. Menurut mereka, “Pesawat Tentara Pusat’ itu ditembak jatuh oleh  ‘Gerombolan’ yang dipimpin oleh “Kolonel Simbolon” dari kolong rumah di Huta Tongah-sebuah desa yang jaraknya 52 Km dari Pematang Siantar menuju Kabanjahe. Lebih daripada itu, yang mereka ketahui adalah bahwa ’Kolonel Simbolon’ pada waktu itu adalah pemimpin PRRI-Permesta yang berseberangan dengan ’Tentara Pusat’ di Medan. Peristiwa tentang jatuhnya ’Pesawat Tentara Pusat’ itu hingga kini masih diingat segar oleh penduduk disana dan diwariskan dari generasi ke generasi apalagi bagi keluarga kami, terutama oleh 4 (empat) orang Ayah bersaudara yang pada saat kejadian itu sedang menjagai padi (mamuro) diladang.
    Peristiwa Sejarah yang mereka ketahui seperti diatas tentulah berdasarkan penuturan lisan yang mereka dapat sebagai respon terhadap peristiwa yang baru saja terjadi. Atau pula karena peristiwa itu telah terjadi relatif lama, maka penuturan lisan itu dipadu dengan buku-buku pelajaran sejarah yang mereka baca. Tetapi yang menarik dari ’cerita’ diatas adalah terbentuknya ingatan kolektif  masyarakat bahwa nama ’Kolonel Simbolon’ identik dengan ’gerombolan’ atau ’pemberontak’ yang tentu saja berseberangan dengan ’Tentara Pusat”. Demikian pula, apabila buku Sejarah Nasional Indonesia ataupun buku pelajaran sejarah khususnya Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) yang diprakarsai oleh  Nugroho Notosusanto-mantan Menteri Pendidikan Indonesia diperiksa maka nama Kolonel (Maludin) Simbolon (selanjutnya ditulis dengan akronim KMS) tercatat sebagai ’pemberontak’. Dalam buku-buku itu, hampir tidak ditemukan ’kontribusi’ KMS dalam membina dan memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Padahal, secara jelas diketahui bahwa KMS memilih masuk menjadi militer-meninggalkan pekerjaan sebagai guru-adalah akibat kesewenangan tentara Jepang yang menangkap, menyiksa dan membunuh orang pribumi termasuk abang kandungnya Johan Simbolon. Namun, dirinya kadung dianggap sebagai sosok pemberontak yang mesti disingkirkan dari panggung negara-menjalani karantina politik dan dinonaktifkan (dipecat) sebagai perwira militer.
    2. Maludin Simbolon Hingga Tahun 1945
    Maludin Simbolon adalah anak laki-laki kedua dari enam orang laki-laki dan memiliki 10 orang saudara laki-laki maupun perempuan dari pasangan Julius Simbolon dan Nursiah Lumbantobing. Dari nama ayahnya, dapat diketahui bahwa keluarga itu telah menganut Kristen yang disebarkan oleh die Rheinischen Missionsgesellschaft (RMG) dimana Dr. I. L. Nommensen bekerja. Lahir pada tanggal 13 September 1916 dimana sang ayah sedang bertugas di luar Pearaja-Tarutung.  Dikenal sebagai anak ‘Mandur Pulo Tao’ dimana sang ayah bertugas sebagai mandor untuk mengurusi pekerja di tempat peristirahatan Belanda. Kehidupan di Pulo Tao turut membentuk kepribadian dan karakter Maludin Simbolon yang tegas, disiplin, teratur dan hidup bersih. Pada masa kanak-kanaknya, Maludin Simbolon sudah sering bermain bersama dengan anak-anak Belanda yang berlibur di Pulo Tao.
    Menamatkan pendidikan dengan prestasi terbaik dari sekolah HIS (Hollandsch Inlandse School) yakni sekolah bergengsi pada saat itu di Narumonda pada usia 16 tahun dengan menghabiskan masa sembilan tahun untuk menamatkan jenjang pendidikan sekolah rendah. Tamat dari HIS, kemudian melanjutkan sekolah ke Christelijke Hollandsch Inlandsche Kweekschool (Chr. HIK) yakni sekolah guru di Solo dan tamat pada tahun 1938 dengan predikat terbaik. Berangkat dari Belawan ke Tanjung Priok dengan menumpang kapal Koninkelijke Paketvaart Matschappij (PKM) yakni Perusahaan Pelayaran Kerajaan Belanda.
    Tamat dari Chr. HIK Solo, kemudian menjadi guru sekolah HIS di Kartasurya (Solo). Selama menjadi guru, berkenalan dengan seorang bidan  yang bekerja di poliklinik zending yang kelak menjadi istrinya. Dari perkawinan itu, Ia dianugerahi dua orang putri dan tiga orang putra yang kelima anak itu diberi dengan nama berkharakteristik Jawa. Cita-citanya memperoleh ijazah dari Hoofdacte Cursus tidak kesampaian berhubung pecahnya Perang Dunia II di Eropah terlebih pada tanggal 10 Mei 1940 negeri Belanda telah diduduki pasukan Jerman. Ia memutuskan untuk keluar dari sekolah HIS Solo, kemudian menjadi guru di Curup. Selama di Curup, ia bertemu dengan Sucipto yang memperkenalkan paham–paham nasionalisme khususnya berdasarkan pendapat Ir.  Sukarno. Kemudian dirinya semakin memahami kondisi sosial politik tanah air terlebih setelah berlangganan dengan majalah ‘National Commentaren’ yang dibina oleh Dr. Sam Ratulangie yang dikenal dengan tokoh Pergerakan Kebangsaan dan anggota Volksraad.
    Serangan fajar tentara Jepang ke Pangkalan Militer Angkatan Laut Amerika di  Pearl Harbour pada Desember 1941, telah mendorong lajunya PD-II. Situasi dan kondisi di Indonesia beralih dari tangan Belanda ke Jepang yang ditandai dengan mendaratnya sekitar 60.000 personel pasukan Jepang di Batavia pada tanggal 1 Maret 1942 dibawah pimpinan Jenderal Hithosi Imamura. Kedatangan tersebut telah memukul mundur pasukan Belanda dari beberapa kota di Pulau Jawa dan mendorong lahirnya Perjanjian Kalijati pada tanggal 8 Maret 1942 berupa penyerahan kekuasaan dari Belanda kepada Jepang.
    Pada saat itu terjadi massacre yakni pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh pasukan Jepang terhadap kaum terdidik dan pemuka masyarakat. Salah satu korban pembunuhan itu adalah Johan Simbolon, abang kandung Maludin Simbolon yang bekerja sebagai pengawas perusahaan minyak di Plaju, tewas setelah ditangkap dan disiksa oleh Jepang.  Atas kejadian itu, nasionalisme dalam diri seorang Maludin Simbolon menjadi berkobar dan mendorong dirinya masuk sekolah militer Giyugun binaan Jepang yang dibentuk terutama untuk menghadapi pasukan Sekutu. Tamat dengan pangkat Letnan Dua dan ditempatkan di Markas Batalyon Giyugun Sumatra Selatan bagian Pendidikan dan Pelatihan.  Dirinya acapkali dipakai sebagai penerjemah inspeksi pasukan Jepang ke daerah-daerah sehingga banyak melihat kekejaman tentara Jepang terhadap bangsa Indonesia. Keadaan itu, telah menimbulkan antipati dan kebencian yang luar biasa terhadap Jepang dan bersama dengan temannya pernah merencanakan pemberontakan terhadap Jepang. Namun, setelah mendengar anjuran Dr. A.K. Gani rencana itupun dibatalkan. Masa berakhirnya pemerintahan Jepang di Indonesia ditandai dengan penyerahan tanpa syarat pasukan Jepang kepada Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945.
    3. Hingga Penyerahan Kedaulatan 1949.
    Enam hari setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia, maka pada tanggal 23 Agustus 1945 dibentuk pemerintahan Republik Indonesia Keresidenan Palembang dengan Dr. A.K. Gani sebagai kepala pemerintahan.  Disamping itu, sesuai dengan putusan PPKI di Jakarta turut pula dibentuk Badan Penjaga Keamanan Rakyat (BPKR), Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah dan Partai Nasional Indonesia (PNI). Selanjutnya, atas prakarsa E.M. Noor di Pagaralam dibentuk  Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang anggotanya berasal dari perwira eks Giyugun, Kepolisian dan Heiho. Pada saat itu, Maludin Simbolon ditetapkan sebagai Komandan Divisi Palembang Ulu berpangkat Kolonel. Kemudian, atas prakarsa A.K. Gani, pemegang mandat TKR se-Sumatra dibentuk badan yang mengkordinasikan TKR se-Sumatra yang terdiri dari enam divisi dimana KMS ditetapkan sebagai Komandan Divisi-I Sumatera Selatan/Lahat. Sementara untuk divisi IV Sumatra Timur/Medan ditetapkan Kolonel Ahmad Taher dan divisi-VI Tapanuli/Sibolga ditetapkan Kolonel Muhammad Din.
    Pasca restrukturisasi TKR se-Sumatra, KMS sebagai Komandan Divisi-I membentuk 4 resimen dan 15 batalyon di Sumatra Selatan. Akan tetapi, markas divisi-I yang berada di pedalaman kurang mendukung perlengkapan pasukan yang memadai seperti senjata,  asrama, dapur umum, pengobatan dan finansil pasukannya.  Oleh karena itu,  dua areal tambang yang terletak di Divisi-I yakni tambang Batubara Bukit Asam dan Tambang Emas di Bengkulu dioptimalkan potensinya. Pada bulan Juli 1946 diadakan rapat Komandemen Sumatra untuk membentuk Staf Komandemen yang dilaksanakan di Bukittinggi dan KMS ditetapkan untuk memegang bidang organisasi dan operasi.  Strategi jitu perang diperolehnya setelah membaca buku ‘On War’ karangan Clausewitz yakni buku standar yang berisikan teori-teori perang yang ditopang oleh penguasaan bahasa Jerman-nya yang cukup baik.  Pada bulan itu juga,  KMS pindah ke Parapat bersama dengan dua orang personel staf komandemen lainnya.  Hal ini telah mendekatkan diri KMS dengan Gubernur Sumatra yang berkedudukan di Pematang Siantar disamping untuk pembentukan divisi-divisi diwilayah Sumatra bagian Utara yang kurang berjalan dengan baik.
    Pertemuan Staf Komandemen Sumatra yang berencana melakukan restrukturisasi dengan komandan divisi Aceh, Tapanuli dan Sumatra Timur menghadapi jalan buntu. Oleh karena itu, Staf Komandemen berencana melebur divisi tersebut menjadi divisi Aceh dan Sumatra Timur dengan KMS sebagai komandan divisi. Tetapi rencana tersebut gagal mengingat sulitnya penyatuan tiga divisi terdahulu.
    Prakarsa Inggris untuk mengatur perundingan antara Belanda dengan Indonesia dimeja perundingan disambut baik oleh Sutan Syahrir sebagai Perdana Menteri. Akan tetapi, sebelum ke meja perundingan terlebih dahulu dicapai kesepakatan genjatan senjata.  Dengan demikian, delegasi militerpun disusun yang mewakili dua daerah utama Indonesia yakni Jawa dan Sumatra dimana KMS ditetapkan delegasi wilayah Sumatra.  Selanjutnya, bersama dengan M. Jusuf (walikota Medan) berangkat ke Pegangsaan Timur 56 dan melapor ke pimpinan TRI di Yogyakarta dan Presiden Soekarno untuk menjelaskan keadaan di Sumatra.  Dalam pembicaraan genjatan senjata tanggal 20 dan 26  September 1946 dengan Inggris, TRI menawarakan lima syarat. Tetapi, genjatan senjata tersebut menemui jalan buntu. Perundingan genjatan senjata baru tercapai pada tanggal 14 Oktober 1946 dan diratifikasi pada 1 November 1946.
    Situasi yang sangat kacau dan pertempuran yang terjadi dimana-mana mendorong Kepala Staf Umum TRI untuk membentuk tiga divisi TRI di Sumatra yakni divisi VIII Garuda di Sumatra Selatan (Lampung, Bengkulu, Pelembang dan Jambi) yang di komandoi oleh KMS, Divisi XI Banteng di Sumatera Tengah (Sumatra Barat dan Riau) serta divisi X Gajah untuk Aceh dan Sumatra Utara.  Naluri militer KMS mendorongnya untuk mengadakan persiapan-persiapan apabila suatu saat Belanda menyerang. Oleh karena itu, dirinya senantiasa melakukan reorganisasi pasukan menjadi brigade tempur serta  inspeksi keseluruh daerah divisinya. Termasuk mengawal Hatta yang disambut oleh Gubernur Sumatra Muhammad Hasan selama berada dan berbicara pada rapat raksasa di Lahat.
    Pasca penandatangangan perjanjian Linggarjati pada bulan Maret 1947,  keadaan di Indonesia bukan membaik tetapi justru lebih memanas hingga pecahnya Agresi Belanda I pada tanggal 21 Juli 1947.  Agresi pertama ini sangat sukses bagi Belanda terutama dengan taktik serangan cepat (blitzkrieg) dengan mudah menduduki kota-kota utama di Jawa dan Sumatra. Namun demikian, mendapat kritik tajam setelah mendengarkan pidato Syahrir di depan sidang DK-PBB pada 14 Agustus 1947 khususnya dari Amerika Serikat dan Inggris yang telah mengakui RI secara de facto. Dampak daripada tekanan internasional itu, telah memaksa Belanda-RI untuk meneken kembali perjanjian damai yang dikenal dengan Perjanjian Renville pada 8 Desember 1947. Anggota komisi militer perjanjian Renville dari wilayah Sumatra ditunjuk KMS untuk segera berangkat ke Yogyakarta menemui Dr. Johannes Leimena sebagai ketua Komisi Militer. Dalam keanggotaan itu Kolonel T.B. Simatupang juga turut serta.
    Keputusan perjanjian Renville adalah  berupa 12 pasal persetujuan politik yang diajukan Belanda dan 6 prinsip tambahan yang diusulkan Komisi Jasa-jasa Baik. Keputusan Renville berakibat buruk bagi Indonesia berupa pengerdilan wilayah-wilayah yang disebut dengan Indonesia.  Meski demikian, sesuai dengan perundingan itu maka untuk pelaksanaan genjatan senjata di daerah, komisi-komisi militerpun dibentuk dan sebagai pengawas dibentuk United Nations Commision for Indonesia (UNCI) dimana KMS ditunjuk untuk membentuk komisi militer di wilayah Sumatra. Disamping untuk membentuk komisi militer dalam rangka genjatan senjata juga sekaligus penarikan garis perbatasan (demarkasi) yang memisahkan kedudukan TNI dan tentara Belanda.  Instruksi presiden pada tanggal 3 Juni 1947, dan perintah Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) untuk melebur TRI dan Laskar Rakyat menjadi TNI  dimana Kolonel Nasution diangkat sebagai Panglima Tentara dan Teritoirum Jawa (PTTJ) dan Kolonel Hidayat di Sumatra banyak mendapat tantangan dari pasukan. Persoalan di Tapanuli dengan membentuk Komando Subteritorium VII adalah salah satu contohnya. Demikian pula persoalan di Subter II, III dan IV yang masih menyebut SUBKOSS.
    Setelah perjanjian Renville, kondisi tanah air belum juga pulih. Pada tanggal 19 Desember 1948 muncul ancaman perang besar-besar yang disiarkan oleh Agence France Press (AFP) dan Reuters. Ancaman tersebut berubah menjadi kenyataan dan dikenal dengan Agresi Belanda II. Khusus di wilayah komando KMS, rencana Belanda itu telah diketahui oleh KMS dari ajudannya. Oleh karena itu, pasukan KMS meledakkan pabrik minyak dan membakar kebun teh Belanda di Pagaralam serta meruntuhkan beberapa jembatan untuk merintangi kedatangan Belanda. Pada saat itu, keadaan Palembang sangat berkecamuk. Pemerintahan Sipil Sumatra dipindahkan ke Muara Aman dan segera  pada 22 Desember 1948 dibentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dimana AK. Gani dan KMS ditetapkan sebagai Gubernur militer dan wakilnya.  Namun, akibat gempuran tentara Belanda, maka pada tanggal 23 Desember 1948 pasukan KMS di Palembang menyingkir ke Jambi.
    Dampak agresi yang kedua ini, terutama pendudukan Belanda atas Yogyakarta telah memaksa Belanda turun ke meja perundingan yang dikenal dengan perjanjian Roem-Royen pada 7 Mei 1949. Perundingan ini diawali oleh desakan mancanegara seperti  DK-PBB, KAA di Delhi pada 20-23 Januari 1949 dan sangksi Amerika melalui Marshal Plan terhadap Belanda. Hingga pada akhirnya membawa Indonesia  dan Belanda ke meja perundingan yang dikenal dengan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag pada 23 Agustus-2 November 1949 yang produk utamanya adalah Republik Indonesia Serikat (RIS) dan penarikan tentara Belanda pasca penyerahan kedaulatan.
    4. Komandan Tentara Teritorium-I Bukit Barisan
    Pada bulan Januari 1950, KMS diundang ke Jakarta untuk mendampingi Presiden Sukarno bersama dengan Nasution dan Sungkono melakukan kunjungan resmi ke India berkaitan dengan perayaan kemerdekaan India dan diterima oleh Jawaharlal Nehru di Calcutta. Dari India terbang menuju Karachi (Pakistan) terus ke Rangoon (Burma) dan kembali ke Jakarta.  Selanjutnya, terjadi strukturisasi personalia Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) dan Angkatan Perang. Dalam restrukturisasi tersebut, Kolonel A.H. Nasution diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat dan Kolonel T.B. Simatupang ditetapkan sebagai Kepala Staf Angkatan Perang. Sementara KMS memegang jabatan di MBAD. Berdasarkan perintah Menteri Pertahanan yakni Hamengku Buwono IX, KMS dipersiapkan ke Medan untuk menggantikan Kolonel A.E. Kawilarang sebagai Komandan Tentara Teritorium Sumatra Utara (Ko. TTSU) yang dipindahkan untuk menumpas Republik Maluku Selatan (RMS).
    Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 1950, tentang pembagian wilayah Republik Indonesia Serikat menjadi 10 propinsi, maka Sumatra Utara ditetapkan menjadi salah satunya. Kondisi di wilayah paling Utara di Pulau Sumatra itu terdapat tiga satuan wilayah dan pemerintahan, yaitu Provinsi Aceh dan Sumatera Timur Utara, Propinsi Tapanuli dan Sumatra Timur Selatan. Kemudian terdapat pula satu negara yakni Negara Sumatra Timur (NST). Dua propinsi RI tersebut dibentuk dengan Peraturan Pemerintah RI. No. 8/Des/WKPM Tahun 1949 sedangkan NST yang meliputi Keresidenan Sumatra Timur mencakup Langkat, Tanah Karo, Deli, Serdang, Simalungun, Asahan dan Labuhan Batu adalah bentukan Belanda. Demikian pula yang tergabung dalam Propinsi Aceh dan Sumatra Timur Utara meliputi Keresidenan Aceh dan Sumatra Timur Utara yakni Tanah Karo dan Langkat. Sedang Propinsi Tapanuli dan Sumatra Timur Selatan meliputi bekas Keresiden Tapanuli dan Sumatra Timur selatan yakni Deli, Serdang, Simalungun, Asahan dan Labuhan Batu. Kondisi tumpang tindih kewilayahan tersebut membuat penyatuan wilayah kedalam propinsi semakin sulit. Namun, penyatuan wilayah tersebut menjadi Propinsi Sumatra Utara relatif mudah setelah keluarnya seruan kembali ke negara kesatuan RI. Dengan demikian, NST dengan sendirinya membubarkan diri dan Acehpun mau menerimanya walau dengan berat hati.
    Sejalan dengan penataan wilayah itu, KMS segera melakukan penataan wilayah militernya. Tak lama setelah menjadi Ko. TTSU, KMS melakukan perluasan wilayah hingga Sumatera Barat (divisi Banteng) dan Riau (Divisi Babiri). Dengan perluasan itu, komandopun dirubah menjadi Komando Tentara dan Teritorium-I (Ko. TT-I) yang di ikuti oleh perubahan sebutan komandan menjadi Panglima.  Tak hanya itu, KMS juga memberikan nama Bukit Barisan dibelakang nama Ko. TT-I sehingga sebutan lengkapnya adalah Komando Tentara dan Teritorium-I Bukit Barisan. Nama Bukit Barisan, dipilih dan ditentukan oleh KMS untuk melambangkan kekuatan yang mempersatukan wilayah komando dan Bukit Barisan sendiri pernah menjadi basis pertahanan selama perang Gerilya. Diakuinya bahwa, dirinya sebagai Panglima tetapi dipihak lain adapula Gubernur Militer seperti FL. Tobing di Tapanuli dan Daud Bureuh di Aceh, Tanah Karo dan Langkat. Oleh karena itu, KMS sering melakukan pembinaan komando dan teritorial. Demikian pula  dengan melancarkan operasi pembersihan ke tempat dan daerah yang rawan keamanan mulai dari Simalungun, Karo dan Deli Serdang dibawah sandi Operasi Sumatra Timur (OST).  Demikian pula sandi Operasi Sihar Hutauruk (OSH), sandi OTERI (Operasi Terra Incognito) yakni pembersihan jalanraya dari Lhokseumawe hingga Kutaradja Banda Aceh.
    Tugasnya selaku Panglima TT-I Bukit Barisan sangat menelan waktu, pikiran dan tenaga. Disamping harus melakukan operasi-operasi pembersihan, juga harus menghadapi aksi pemogokan buruh yang beraliran komunis di Belawan yang dilakukan oleh Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), demikian pula harus menghadapi pemberontakan Daud Bureueh di Aceh pada tanggal 20 September 1953 pada saat Bung Karno membuka Pekan Olahraga Nasional (PON) III di Stadion Teladan Medan. Operasi pemulihan keamanan di Aceh langsung dibawah pimpinan Panglima TT-I Bukit Barisan dengan sandi Operasi Biawak disamping dua operasi lainnya.  Keamanan di Aceh baru dapat dipulihkan  melalui perundingan damai di Helsinki pasca terjadinya gempa bumi di Nanggroe Aceh Darussalam. Kelak, Komando Tentara dan Teritorium-I Bukit Barisan, dikenal dengan Komando Daerah Militer (Kodam) Bukit Barisan, sebutan komandannya adalah Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Bukit Barisan.
    5. Penutup.
    Sosok dan ketokohan KMS dalam militer terutama dalam periode 1942-1950 terbilang sangat sukses.  Dimulai dengan rintisan sekolah militer Giyugun sampai menyandang sebagai Panglima TT-I Bukit Barisan. Kiranya, sumbangsih dan kontribusi KMS untuk tanah airnya-Indonesia-sangatlah besar terutama memasuki klimaks Indonesia Merdeka dan sepuluh tahun pasca kemerdekaan itu.
    Tulisan ini, bukan bermaksud menafikan apa yang sudah ’terlanjur dicatat’ seperti dalam sejarah Indonesia yang telah membentuk ingatan kolektif terhadap dirinya, tetapi cenderung melihat keturutsertaannya dalam menegakkan Indonesia. Ingatan kolektif masyarakat desa tentang penembak jatuh ”Pesawat Tentara Pusat’ seperti dikampung itu adalah rekontruksi peristiwa yang sengaja ditempelkan dalam upaya menumbuhkan ’keindonesiaan’. Kini, pastilah seorang KMS  tidak mengharapkan rehabilitasi atas keterlanjuran itu, atau juga menginginkan ’Maha Putra Utama’ atas jasa-jasanya. Tetapi, kalaulah seorang KMS boleh berharap, barangkali ia akan mengajak 220 juta orang penduduk Indonesia untuk melihat kembali peristiwa sejarah itu, karir militernya dan perjuangannnya terhadap Indonesia secara komprehensif dan jujur.  Persoalan ’terlanjur dicatat’ itu adalah sisi lain yang harus dilihat secara objektif. Masalahnya adalah, sampai seberapa dapatkah kita mampu melihatnya secara objektif?.
    Oleh: Erond L. Damanik, M.Si
    Penulis adalah peneliti di
    Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial
    Lembaga Penelitian-Universitas Negeri Medan

    12 Komentar
    1. tulisan anda sangat menarik,saya sangat setuju dengan anda jika Kol M simbolon di golongkan Gerombolan bahkan penghianat tidak pantas,sperti yang pernah saya baca di buku tentang sejarah kebanyakan,namun kekaguman saya sebagai generasi muda ke pada beliau ketika dia rela menninggalkan jabatan nya sebagai Panglima TT 1 BB demi, melawan ketidak adilan antara Jawa dan Sumatra,,,namun sangat di sayangkan banyak penulis buku sejarah yang melupakan begitu saja Perjuangan Beliau,,Jika kita tinjau di zaman modern ini Perjuangan beliau untuk masyarakat Sumatra sudah nampak yakni dengan pembangunan sarana dan prasarana,sekolah dan Rumah sakit,,,salut buat Kol M simbolon yg tidak mengharapkan Maha Putra Utama demi Keadilan yang tertindas,,,,Thanks atas tulisan anda Horas
      • Terima kasih kami ucapkan atas apresiasi Anda. Teruslah membaca untuk menambah dan memperluas wawasan pengetahuan.
        Salam
        Admin.
        • SIAP… kalo boleh tau apa bener terjadi pengkhianataan di tubuh PRRI yg dipimpin oleh M.Simbolon ….
    2. KMS layak sebagai tiruan oleh para sipil maupun angkatan bersenjata yang ada. Karena ketidakadilan antara pusat dan daerah tetap terjadi sampai sekarang. Salut buat KMS. Seharusnya buku mengenai KMS beredar di toko2 buku yang ada.
      Saya mau membeli buku perjuangan KMS dimana ya?
      Terima kasih. Selamat menghimpun kekuatan kembali untuk bendera yang diambil oleh orang2 yang tidak adil.
      Bravo. Mantap.
      • Dear Toa,
        Yach benar seperti yang Anda katakan. Buku tentang KMS agaknya banyak dijual. kami dulu punyak banyak (2 tahun silam) tapi sekarang sudah habis dan belum pernah mendapatkan lagi. Buku itu ditulis oleh Prof. Dr. Payung Bangun, MA. Semacam memoar pribadi KMS-lah. Saya banyak mengetahui KMS dari buku itu, dan mencoba menulis tentang sosok KMS dari sudut perjuangannya dan tujuan perjuangan itu. Soal ia dituduh sebagai desersi AD, bukan bahasan dari tulisan say ini.
        Salam
    3. Syaloom.., tulisan ini membuatku terkagum2, muda2han kelak Bangso Batak bisa mempunyai negara sendiri, yg jauh dari Intimidasi dan Pendeskritan.. Horas dan salam pembebasan..
      • Setuju tentu karena banyak dasar pertimbangannya, jika dalam 2-3 tahun belakangan ini, bangso batak khusus tidak mendapat tempat dalam membangun Persatuan Negara RI, jika Negara Indonesia masih NKRI, maka dengan prediksi 2015, Indonesia akan menjadi Negara Serikat sebagaimana yang diinginkan oleh UUDS tahun 1950 yaitu 18 Negara Serikat. Horas
    4. bisa nga lae. copi bukunya. lae beri alamat biar aku kirim uangnya melalui wesel.
    5. komentar.bole copi bukunya lae.
    6. Apa yang diceritakan dalam pengantar tentantg jatuhnya pesawat mustang yang ditembah jatuh di Saribudolok dan meninggal serta dimakamkan secara Katholik adalah benar adanya, namun pasukan tentara yang menembak tersebut bukanlah dibawah Komando dari Kol. Maludin Simbolon, tetapi oleh Pasukan yang dibentuk oleh Mayor Boyke Nainggolan dan Mayor Henry Siregar eks Komando Batalyon Melati Lapangan Benteng Medan yang setia kepada Kol Maludin Simbolon dengan membentuk satu Komando dengan nama Operasi Sabang Merauke. (bukan oleh PPRI, karena PRRI, tidak akan pernah ada di Tapanuli dan Sumatera Timur, PRRI ada di Sumatera Tengah bentukan Ahmad Husein pada tgl 17 Maret tahun 1958 dgn Perdana Menteri PRRI Syariffrudin Prawiranegara. Jadi, apabila ada sejarah menuliskan bahwa PRRI ada di Sumatera, itu kebohongan publik. Kol Maludin Simbolon tidak pernah berfikir sedikitpun membentuk suatu pemerintahan tandingan, dia setia kepda Negara Persatuan Republik Indonesia (NPRI), Pancasila dan UUD 1945 sesuai dengan Proklamasi Kemerdekaan 1945. Kol M. Simbolon benar memerintahkan kepada Letnan Kol. Ahmad Husein pada malam hari pukul 20.00 tgl 20 Desember 1956 melallui Radiogram kepada Ahmad Husein mencetuskan di Sumatera Tengah agar memutuskan untuk sementara waktu hubungan kepda Pemerintah Pusat, perintah ini dilakukan Kol. M Simbolon sebagai tanggungjawabnya selaku Panglima TT.I Bukit Barisan dan penanggungjawab wilayah. Hal ini dilakukannya karena kondisi sosial ekonomi di daerah sudah semakin parah, karena tidak ada perhatian Pemerintah Pusat ke Daerah. Untuk sementara demikianlah dulu komentar saya selaku anak dari salah satu prajurid TNI AD yang orang tua kami turut secara langsung bersama Mayor Boyke Nainggolan, Henry Siregar, Sahala Hutabarat, Nanti Sitorus, Sarumpaet dll.trima kasih.
    7. copas ya pak…..
      HIDUP SIMBOLON……………
    8. Memang yg terpromosi mengenai Kol. Simbolon ini adalah kata ‘pemberontakan’ , sehingga terkesan seolah tdk setuju dgn berdirinya RI ~ kita yg mendengar umumnya menelan begitu saja dan lalu percaya, kita tdk menyelidik apa motif keputusan sang kolonel ini ~ seandainya kita paham, apa yg diperjuangkan dan motifnya, mungkin kita juga akan berkata ‘memang sudah sepantasnya sang kolonel menunjukkan sikapnya itu’. Bagaimanapun, pahitnya kehidupan selama bertugas dan berjuang sdh ia rasakan, walaupun terdenagr jabatannya yg begitu wah, namun saya yakin kemewahan dimasa itu amatlah jauh dari yg ada sekarang utk jabatan yg sama.
      Jika pemerintah pusat memang tlh berbuat kesalahan sehingga terjadi pemberontakan, maka sdh seharusnya pula pemerintah pusat secara jujur mengakuinya,,, artinya bhw perlawanan sang kolonel bukannya tanpa alasan yg jelas.

    Comments RSS TrackBack Identifier URI

    Tinggalkan Balasan

    Translate

    .btn-space{text-align: center;} .ripple {text-align: center;display: inline-block;padding: 8px 30px;border-radius: 2px;letter-spacing: .5px;border-radius: 2px;text-decoration: none;color: #fff;overflow: hidden;position: relative;z-index: 0;box-shadow: 0 2px 5px 0 rgba(0, 0, 0, 0.16), 0 2px 10px 0 rgba(0, 0, 0, 0.12);-webkit-transition: all 0.2s ease;-moz-transition: all 0.2s ease;-o-transition: all 0.2s ease;transition: all 0.2s ease;} .ripple:hover {box-shadow: 0 5px 11px 0 rgba(0, 0, 0, 0.18), 0 4px 15px 0 rgba(0, 0, 0, 0.15);} .ink {display: block;position: absolute;background: rgba(255, 255, 255, 0.4);border-radius: 100%;-webkit-transform: scale(0);-moz-transform: scale(0);-o-transform: scale(0);transform: scale(0);} .animate {-webkit-animation: ripple 0.55s linear;-moz-animation: ripple 0.55s linear;-ms-animation: ripple 0.55s linear;-o-animation: ripple 0.55s linear;animation: ripple 0.55s linear;} @-webkit-keyframes ripple {100% {opacity: 0;-webkit-transform: scale(2.5);}} @-moz-keyframes ripple {100% {opacity: 0;-moz-transform: scale(2.5);}} @-o-keyframes ripple {100% {opacity: 0;-o-transform: scale(2.5);}} @keyframes ripple {100% {opacity: 0;transform: scale(2.5);}} .red {background-color: #F44336;} .pink {background-color: #E91E63;} .blue {background-color: #2196F3;} .cyan {background-color: #00bcd4;} .teal {background-color: #009688;} .yellow {background-color: #FFEB3B;color: #000;} .orange {background-color: #FF9800;} .brown {background-color: #795548;} .grey {background-color: #9E9E9E;} .black {background-color: #000000;}